Profil PPKAB

Latar Belakang
Pusat pendidikan konservasi alam bodogol (PPKAB) merupakan satu lokasi yang berperan sebagai salah satu tempat untuk memperkenalakan kekayaan alam hutan hujan tropis kepada masyarakat umum dan masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). PPKAB sendiri terbentuk atas prakarsa tiga lembaga, yaitu Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Conservation International Indonesia (CII), dan Yayasan Alam Mitra Indonesia (ALAMI). PPKAB mulai diperkenalkan secara umum kepada masyarakat luas pada tahun 1998. Sebagai peran PPKAB memperkenalkan Kekayaan alam hutan hujan tropis, penyadaran dan pelibatan masyarakan dalam kaitannya dengan perlindungan kawasan hutan menjadi tonggak dalam mempertahankan kawasan ini sebagai kawasan konservasi, pada tahun 2008 konsorsium PPKAB berubah menjadi Konsorsium Konservasi Alam Bodogol dengan beranggotakan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Conservation International Indonesia (CII), dan Yayasan Owa Jawa (YOJ).

Karakteristik kawasan
Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol berada pada ketingian 800 dpl, merupakan salah satu zona pemanfaatan didalam kawasan Tamana Nasional Gunung Gede Pangrango, perannya mampu menopang keragaman hayati yang tinggi. Beberapa jenis tumbuhan berbunga, tumbuhan obat, tanaman hias tidak sulit untuk ditemukan didalam kawasan ini termasuk didalamnya satwa endemik jawa, Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan owa jawa (Hylobates moloch).

Sistem Pengelolaan PPKAB
Selain sebagai lokasi pendidikan konservasi alam, PPKAB memiliki peran sebagai kawasan penelitian dan ekowisata terbatas. Dalam jalur-jalur ini terdapat serangkaian point of interests berupa fenomena-fenomena hutan hujan tropis. Dibantu oleh pemandu, pengunjung diajak untuk lebih memahami hutan hujan tropis. Di dalam jalur ini pula, pemandu PPKAB akan membawakan permainan-permainan bernuansa alam yang akan menambah khazanah pengetahuan bagi pengunjung.

PPKAB dikelola oleh Badan Pengelola Harian (BPH) merupakan unit manajemen yang terdiri dari komponen Taman Nasional, Masyarakat dan Volunteer di Bodogol. Unit manajemen ini mendapatkan mandat secara luas untuk melaksanakan program-program pendidikan konservasi, penelitian dan ekowisata di PPKAB, yang sebelumnya telah digariskan dalam Garis Besar Haluan Kerja. Garis Besar Haluan Kerja ini sebelumnya telah dirumuskan oleh Konsorsium. BPH secara rutin memberikan laporan pertanggungjawaban kepada semua anggota konsorsium.

Manajemen multipihak PPKAB: efektifkah?
Menggabungkan beberapa pihak dengan standar kerja yang berbeda adalah suatu tantangan. Namun, begitu tantangan-tantangan ini berhasil diatasi maka terciptalah suatu tim yang solid. Pada tataran ideal hal ini memang menjanjikan, tetapi

Untuk menyatukan komponen-komponen stakeholder yang berbeda akan membutuhkan energi yang luarbiasa banyaknya. Latar belakang yang berbeda, standar kerja yang berlainan, adalah beberapa kendala yang pasti timbul bila kita dihadapkan pada masalah manajemen multipihak.

Lalu mengapa PPKAB mempertahankan pola ini? Mengapa BPH tetap dapat bekerja pada tekanan-tekanan yang tercipta oleh perbedaan itu? Jawabannya terletak bukan pada kesulitan yang tercipta, melainkan pada berkah yang kita dapatkan dengan bekerja bersama.

Dengan bekerja bersama, rupanya ada keuntungan yang sangat signifikan. Pada kasus BPH PPKAB, latar belakang dan standard kerja yang berbeda justru memberikan pendekatan pemecahan masalah yang saling komplementer. Pada kasus-kasus tertentu, memerlukan pendekatan fleksibilitas dan surveillance adalah style yang melekat pada LSM. Sementara pada kasus-kasus tertentu Law Enforcement adalah cara efektif untuk para pembangkang, dan cara ini hanya dimiliki oleh aparat TNGGP. Intinya adalah bahwa keahlian serta latar belakang yang beragam justru makin menjamin terselesaikannya sebuah masalah dengan lebih memuaskan.

Namun sebelum menuju ke sana ada sebuah syarat mutlak: komunikasi. Kita harus selalu berusaha menciptakan kanal informasi yang lancar bagi semua pihak.Dengan komunikasi yang baik maka kita akan dapat menciptakan kepercayaan antarpihak. Sebagai modal awal, kepercayaan merupakan syarat untuk memulai kerjasama yang saling menguntungkan. Pada akhirnya dengan adanya kepercayaan dan sharing benefit akan tercipta rasa saling menghormati dan menghargai antarpihak.

Kembali pada kasus PPKAB, kesulitan-kesulitan memang tersaji di hadapan PPKAB selama lima tahun ini. Namun, semua harga itu memang serasa tidak sebanding dengan manfaat besar yang PPKAB dapatkan. Apapun upayanya, berapapun harganya BPH selalu berusaha untuk mempertahankan kelancaran kanal informasi. Karena informasi adalah satu-satunya jalan agar kita selalu dapat menyamakan persepsi, menyamakan langkah dan mengatasi masalah di berbagai level. Karena itulah PPKAB masih bertahan dengan format sekarang: bekerja bersama bukan bersama-sama kerja. Jadi jawaban terhadap judul di atas adalah YA! Kita akan terus bekerja bersama dalam koridor konservasi, khususnya di TN Gunung Gede Pangrango

Program-program untuk pengunjung
Di PPKAB, pengunjung dapat menikmati topik-topik sebagai berikut:
Menyingkap rahasia hutan hujan tropis
Flora-flora bermanfaat di hutan hujan tropik
Mamalia hutan hujan tropik
Birdwatching
Asal usul air
Jungle trekking

Self Sustain Conservation Education Program
PPKAB selalu berusaha menciptakan kemandirian dalam menciptakan program pendidikan konservasi. Dalam hal ini, pengunjung PPKAB adalah salah satu sumber pendanaan - bahkan yang utama - untuk program-program pendidikan konservasi alam. Karenanya program-program pendidikan konservasi di PPKAB dapat berjalan dengan berkesinambungan selama wisatawan tetap berkunjung. Kelompok sasaran dari program pendidikan ini antara lain:
•Siswa-siswa sekolah di sekitar kawasan TNGP,
•Masyarakat lokal,
•Aparat pemerintahan setempat,
•Guru pengajar,
•Kelompok-kelompok sukarelawan

Saat ini PPKAB secara rutin telah menyalurkan sebagian dananya untuk program-program pendidikan konservasi alam kepada kelompok sasaran di atas. Program pendidikan yang disampaikan di PPKAB dikemas dalam bentuk yang mudah dicerna dan menarik, dibantu dengan display dan permainan-permainan.
PPKAB tidaklah berbicara mengenai program dengan budget raksasa, atau dengan judul yang bombastis dan menarik media massa. Sebaliknya PPKAB lebih berkonsentrasi pada program dengan dana “marginal” tetapi berkesinambungan dan langsung kepada sasarannya. Dengan mengedepankan prinsip kemandirian (walaupun tidak menutup diri dari bantuan) PPKAB secara rutin terus meluncurkan program-program pendidikan konservasi.

Program-program pendidikan konservasi ini dapat berupa:
•Visit to School: Program ini merupakan program kunjungan ke sekolah. Dalam program ini PPKAB berinteraksi dengan siswa membawakan topik-topik diskusi yang berkaitan dengan konservasi. Paket dikemas dalam bentuk permainan, pemutaran slide dan program lain yang disesuaikan dengan tingkat usia sasaran. Program ini biasanya dilakukan sebelum School Visit program.
•School Visit: Merupakan program undangan kepada sekolah-sekolah sekitar kawasan untuk dapat mengunjungi dan belajar di PPKAB. Program ini dapat disesuaikan dengan topik-topik yang sedang dipelajari di sekolah-sekolah.
•Pelatihan dan lokakarya: PPKAB secara berkala mengadakan pelatihan-pelatihan tentang topik-topik konservasi alam, misalnya: pelatihan interpretasi, lokakarya guru, training for trainer dan diskusi-diskusi rutin.
•Program kemasyarakatan: Program ini dapat berupa pelibatan masyarakat, penyuluhan, atau dukungan terhadap program-program yang telah ada di masyarakat.
•Support program untuk TNGP: Pada program ini PPKAB berusaha untuk memberikan support pada misi-misi TNGP di lapangan. Dukungan ini biasanya berupa kegiatan patroli bersama dan penyuluhan ke masyarakat.
•Education Link dengan Stasiun Penelitian Bodogol (SPB) : PPKAB dan Stasiun Riset Bodogol adalah 2 program yang tidak terpisah. Secara timbal balik keduanya saling memberikan feedback agar misi konservasi secara umum dapat tercapai. Beberapa link yang telah mulai dijalin antara PPKAB dan SPB adalah:
oPelibatan relawan-relawan PPKAB di kegiatan SPB
oMonitoring satwa di area Bodogol
oPemanfaatan hasil penelitian sebagai material edukasi
oKeterlibatan peleliti-peneliti SPB dalam pengayaan materi untuk volunteer
oPPKAB menjadi jembatan antara dunia sains (SPB) dan masyarakat awam dengan menciptakan metode-metode yang populer dan tepat sasaran.

Dalam melaksanakan program pendidikan konservasi ini, seluruh unsur konsorsium terlibat secara aktif. PPKAB mendapat dukungan penuh dari CII, TNGP dan Yayasan Owa Jawa. PPKAB juga mendapatkan bantuan yang sangat besar dari para sukarelawan yang berdedikasi tinggi. Para sukarelawan yang sering terlibat dalam kegiatan PPKAB antara lain berasal dari organisasi Volunteer Eagle,Interpreter Tepala dan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar